26 Pertanyaan Penting Sebelum Menikah

Pernikahan, Artikel

Saya duduk bersama para pemuda, usia mereka 20-an awal, sebagian mereka telah menikah, tapi empat dari mereka bercerai pada tahun pertama pernikahan, lalu menikah lagi. Saya bertanya kepada mereka tentang sebab perceraian dini. Mereka menjawab bahwa mereka memasuki pernikahan pertama tanpa mengerti banyak tentang pernikahan dan tidak paham bagaimana berinteraksi dengan wanita. Pernikahan pertama menjadi terminal percobaan, mereka belajar banyak pengalaman, di antaranya bagaimana berinteraksi dengan psikologis wanita, dan inilah penyebab keberhasilan pernikahan kedua. Kemudian mereka berbicara tentang masalah ketidaksiapan anak muda untuk menikah dan kegagalan pertama mereka karena faktor ini.

buku nikah

Saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka dimana setiap pemuda yang hendak menikah harus mengetahui jawabannya, yaitu:

Apa tujuan pernikahan? Bagaimana merencanakan pesta pernikahan tanpa masalah? Apa saja pekerjaan malam pertama? Apa hak dan kewajiban suami-istri? Bagaimana seni mengatasi konflik rumah tangga? Apa perbedaan antara psikologis perempuan dan laki-laki, dan bagaimana cara mereka berpikir? Apakah kebahagiaan itu sifatnya permanen di semua hari-hari pernikahan? Apa yang harus dibayar oleh suami kepada istrinya setiap bulannya? Kapan pihak keluarga perlu terlibat untuk menyelesaikan konflik suami-istri? Bagaimana bersikap jika pasangan kikir, membangkang, atau keras? Apakah suami berhak melarang istrinya bekerja atau berhak mengambil harta istri? Apa saja ketentuan hukum syariat perihal melakukan hubungan seksual? Bagaimana pasangan suami-istri merencanakan masa depan mereka? Kapan waktu terbaik untuk memiliki anak? Bagaimana pasangan (suami-istri) berinteraksi dengan keluarga mereka jika ikut campur dalam kehidupan mereka? Mana yang lebih baik, tinggal bersama orang tua atau tinggal mandiri? Bagaimana suami-istri berinteraksi dengan rahasia-rahasia keluarga? Apa batasan-batasan hubungan (pasangan) dengan teman-teman mereka? Bagaimana memuji pasangan? Bagaimana membangun kepercayaan antara pasangan? Siapa pihak ketiga yang dijadikan rujukan saat terjadi perselisihan? Apa itu keterampilan mendengarkan dan berdialog sukses? Kapan perceraian itu solusi yang tepat? Bagaimana meraih keluarga pasangan? Bagaimana berinteraksi dengan lingkungan dan budaya yang berbeda antara pasangan? Bagaimana kita belajar seni menutup mata dari kesalahan?

Seorang pemuda berkata, “Sungguh ini adalah pertanyaan penting, tapi bagaimana kita mengetahui jawaban yang benar?” Saya jawab, “Pada dasarnya kamu bisa mengetahui jawaban pertanyaan-pertanyaan dari orang tuamu, kemudian dari sekolah, media informasi, dan program-program pelatihan.”

Seorang pemuda berkomentar dengan gaya mudanya, “Tinggalkan retorika ini wahai Doktor, Aku tidak mau belajar dari orang tuaku karena mereka gagal dalam pernikahan. Bagaimana aku belajar dari mereka untuk mengajariku seni membangun rumah tangga sukses! Sedangkan pendidikan di sekolah tidak mengajarkan kita tentang keluarga dan pernikahan sukses. Adapun program-program pelatihan, kami bosan dengan kuliah-kuliah dan seminar. Namun, kami menginginkan informasi yang cepat, ringkas, dan bermanfaat yang sesuai dengan realita zaman ini.”

Maka segera saya jawab pertanyaan ini dan saya katakan kepada mereka, “Apabila kita fokus mempelajari siroh Nabi kita SAW dengan istri-istrinya, niscaya kita akan mendapati banyak kemudahan berbicara pernikahan.”
Nabi SAW hidup dengan berbagai kondisi dengan istri-istrinya, mengajarkan kita cara berinteraksi dengan anak kecil dan orang dewasa, berinteraksi dengan janda dan perawan, wanita yang dicerai dan janda, dengan orang lapang dan sulit, dan dengan orang lembut dan kasar. Kita perlu membaca sosiologis siroh ini dan belajar seni berinteraksi keluarga.”
Seorang pemuda berkata, “Aku belum berpikir menikah, sedangkan umurku sudah mendekati tiga puluh tahun, bagaimana menurut Anda?” Saya jawab, “Ini adalah fenomena yang menyebar luas di kalangan anak muda saat ini yang mendahulukan kebahagiaan individu daripada kebahagiaan keluarga, setiap hari kamu tertunda menikah maka kamu rugi besar. Karena keluarga akan memberimu cinta, penghargaan, rasa aman, damai, nyaman dan ketenangan. Mungkin kamu tidak butuh ini sekarang karena kesibukanmu dengan teman-temanmu. Tetapi, ketika umurmu bertambah maka kamu akan merasakan pentingnya kata-kata yang saya ucapkan kepadamu ini. Maka segeralah menikah. Ia menjawab, “Untuk ini membangun keluarga penting.”

Saya berkata kepadanya, “Saking pentingnya keluarga, Rasulullah SAW mendahulukan menemani istri dari pada berjihad ketika ditanya oleh seorang lelaki yang ingin pergi berjihad sedangkan istrinya ingin berhaji. ‘Pergilah bersamanya’ jawab Rasulullah.” Pemuda itu berkata, “Ajib, pertama kali aku mendengar hadits ini.”

Saya berkata kepadanya, “Karena itu, saya beritahu kalian untuk bersegera menikah. Keluarga adalah pintu agung dari pintu-pintu surga, maka bersemangatlah mendapatkannya. Namun, persiapkan dulu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama yang pernah dilakukan teman-temanmu.” Ia menjawab dengan suara keras “Baiklah, hari ini aku memutuskan dua keputusan, pertama persiapan menikah, kedua menikah.” Pemuda tersebut tertawa dan kami pun tertawa bersama.

 

Oleh: Dr. Jasim Muhammad Al-Muthawwa’ (Pakar Parenting dari Kuwait)
Diterjemahkan oleh: Ustadz Ahmad Fadhail Hosni, Lc, M.H (Pengajar Aktif Griya Madani Indonesia)

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan