Kajian Naishoihul Ibad Bab I “Nasihat Yang Berisi Dua Perkara” Part. III Oleh Ust. Qoyyid Abdul Azis

Kajian

10.Berdosa Sambil Tertawa dan Berbuat Taat Sambil Menangis
Sebagia dari ahli zuhud berkata:
“Barangsiapa berbuat dosa sambil tertawa, maka Allah akan melempar dia ke neraka dalam keadaan menangis. Dan barangsiapa dengan menangis berbuat taat, maka Allah akan memasukkannya ke surge dalam keadaan tertawa.”

Ahli Zuhud, yaitu orang-orang yang tidak mempedulikan dunia . mereka mengambilnya untuk sekedar keperluan yang sangat dibutuhkan saja. Maksud hadis diatas, barangsiapa yang berbuat suatu dosa dengan tertawa, yakni menanggung dosa dengan perasaan gembira atas dosanya itu, maka sesungguhnya Allah akan memasukkan dia ke neraka dalam keadaan menagis. Seharusnya dia bersedih dan beristigfar kepada Allah SWT, agar diampuni dosanya. Dan barangsiapa yang taat sambil menangis, yakni takut kepada Allah SWT. Karena merasa telah menyepelekan kewajibannya, maka kelak dia akan masuk surge dengan penuh kegembiraan. Orang seperti sekaligus telah berbuat dua kebajikan: Kebajikan taat itu sendiri dan kebajikan penyesalannya terhadap dosa yang telah dia lakukan.

11.Jangan Meremehkan Dosa Kecil
Sementara hukama menyatakan :
“Janganlah meremehkan dosa-dosa kecil, karena dari stulah bersemi dosa-dosa besar.”

Di samping itu, kadang-kadang kemurkaan Allah SWT. Timbul karena dosa-dosa yang kecil.

12.Dosa Kecil dan Besar
Nabi saw bersabda:
“Dosa kecil tidaklah dipandang kecil jika terus-menerus dilakukan dan dosa besar tidak dipandang besar jika disertai memohon ampunan.”

Dosa kecil yang terus-menerus dilakukan akan menumpuk menjadi dosa besar, dengan adanya kehendak untuk melakukan terus-menerus, berarti suatu dosa telah membesar karena niat melakukan maksiat itu merupakan perbuatan maksiat tersendiri. Dosa besar tidak dipandang besar, jika disertai senantiasa memohon ampunan kepada Allah maksudnya bertobat kepada Allah SWT. Disertai syarat-syaratnya. Tobat akan menghapus segala kesalahan walaupun kesalahan itu besar.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailami dari ibnu Abbas dengan susunan mendahulukan kalimat akhir dari kalimat awal.

13.Kemauan Orang yang Makrifat dan Orang yang Zuhud
Ada yang mengatakan:
“Kemauan orang arif itu memuji. Sedang kemauan orang Zahid itu berdoa, karena keinginan orang arif memperoleh pahala Allah, sedang keinginan orang Zahid kemanfaatan dirinya.”

Orang yang arif selalu keagungan sifat-sifat Allah SWT. Orang yang zuhud (berpaling dari keinginan dunia), selain berdoa, dia bertawaduk kepada Allah SWT. Memohon kebaikan darinya.
Orang arif bertujuan memikirkan Tuhannya, bukan memikirkan pahala surga. Sedangkan orang zuhud bertujuan memikirkan pahala dan surga. Sedangkan orang zuhud bertujuan memikirkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri, yaitu pahala dan surga. Jadi perbedaan anatara keduanya, tujuan orang zuhud adalah memikirkan agar dia mendapatkan bidadari, sedangkan tujuan orang yang arif ialah memikirkan agar dihilangkan tirai-tirai dirinya

14.Orang yang Sedikit Makrifatnya dan Orang yang Belum Mengenal Betul Dirinya Sendiri
“Barangsiapa mengira, bahwa mempunyai penolong yang lebih mumpuni dibanding Allah, maka baru sedikit ia mengenali Allah dan barangsiapa mengira mempunyai musuh yang lebih kejam disbanding nafsunya, berarti baru sedikit ia mengetahui terhadap dirinya sendiri.”

Barangsiapa yang menduga adanya seorang penolong yang lebih dekat kepada dirinya daripada Allah dan lebih banyak pertolongannya, berarti dia tidak mengetahui Allah SWT. Sedang orang yang belum mengetahui keganasan hawa nafsu sendiri yang selalu mempengaruhinya ke arah kejahatan, berarti dia tidak mengetahui bahwasanya nafsu itu musuh yang paling jahat.

15.Lisan dan Hati
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, tentang tafsiran ayat:
“Tampaklah kerusakan di daratan dan di lautan itu, lantaran perbuatan tangan-tangan manusia sendiri.”

Beliau mengemukakan:
“Daratan adalah lisan, sedangkan lautan adalah hati; Maka, apabila lisan rusak, maka pribadi-pribadi manusia menangisinya dan apabila hati rusak, maka para malaikat menangisinya.”
Lisan rusak misalnya dengan memaki dan hati rusak umapamanya dengan sikap pamer.
Ada pendapat yang mengatakan, bahwa hikmah lidah diciptakan hanya satu, untuk mengingatkan hamba Allah SWT, bahwa janganlah dia mengatakan sesuatu selain perkataan yang penting dan baik. Pendapat lain mengatakan bahwa sesungguhnya ucapan berzikir dalam berbagai Bahasa hanya ditujukan kepada Allah Yang Maha Esa. Begitu pula dengan hati, dia diciptakan tunggal, sedangkan mata dan telinga jumlahnya berpasangan. Selain itu, pendapat lain mengatakan lagi bahwa : kebutuhan pendengaran dan penglihatan lebih banyak daripada kebutuhan lisan.
Lautan diibaratkan dengan hati, karena sama-sama sangat dalam dan luas.

Tinggalkan Balasan