Kajian Riyadhus Shalihin “Menjunjung Kehormatan Umat Islam” Oleh: Ust. Achmad Syukron

Artikel

Riyadhus Shalihin - Ust Achmad Syukron

Kajian Riyadhus Shalihin kali akan membahas bab “Menjunjung Kehormatan Umat Islam”. Allah Ta’ala berfirman: Siapa saja yang membunuh seorang manusia,bukan karena itu (membunuh) orang lain, atau nukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Al-Maidah: 23) 

Dari Abu Musa ra.,ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Orang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu bagian dengan yang lain saling mengokohkan.” Sambil memperagakan dengan menyusupkan jari-jemarinya.” (Muttafah’Alaih). Dari hadist tersebut seorang mukmin harusnya menyadari bahwa saudara mukmin yang lain adalah ibarat bangunan yang satu dengan lainnya saling megokohkan. Seorang mukmin adalah mereka yang berbahagia dengan kebahagiaan saudaranya dan terus mendorongnya untuk lebih baik. Saat mukmin satu lemah maka yang lain harus menguatkan, saat yang satu sedih, yang lain harus siap membahagiakan. Indah sekali ikatan seorang mukmin.

Dari Abu Musa ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang berjalan di masjid dan pasar sedangkan ia membawa anak panah, hendaklah ia menyembunyikan atau memegang ujungnya agar jangan sampai mengenai (mengganggu) seseorang di antara umat islam.” (Muttafaq’Alaih).

Diriwayatkan oleh muttafaq alaih pula, bahwa seorang mukmin yang membawa anak panah pada saat ke pasar, maka ia ia harus menyembunyikan sehingga tidak menyakiti saudaranya. Kehati-hatian adalah unsur yang menonjol dalam hadist ini, senjata atau dalam konteks yang lebih luas adalah segala kelebihan yang Allah anugerahkan kepada kita, harus benar-benar kita jaga sehingga tidak menyakiti saudara mukmin yang lain. Selain itu dari hadist ini kita bisa belajar untuk tidak memamerkan senjata atau kelebihan yang karenanya berpotensi menyakiti hati saudara yang lain.

Dari Nu’man bin Basyir ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang yang beriman yang saling mencintai dan saling menyayangi serta saling mengasihi bagaikan satu tubuh,apabila satu anggota menderita sakit, maka yang lain ikut merasakan hingga tidak bisa tidur dan merasa demam.” (Muttafaq’Alaih)

bahwa perumpamaan mukmin yang saling menasehati dan menyayangi, ibarat satu tubuh. Yang mana jika satu bagian sakit, yang lain ikut merasakan hingga tidak bisa tidur dan demam. Dari sini penting sekali untuk peduli dan ikut merasakan beban saudara mukmin yang lain.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw. mencium cucunya Al-Hasan bin ali. Waktu itu Al-aqra’ berada di hadapan beliau, kemudian Al-Aqra’berkata: “Wahai Rasulullah,saya mempunyai sepuluh seorang anak, dan belum pernah kucium seorangpun.” Rasulullah saw. Menoleh kepada Al-Agra’ seraya bersabda:”Siapa saja yang tidak mau mengasihani, maka tidak akan dikasihani.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dari Aisyah ra., ia berkata: “Beberapa orang Badui datang menghadap Rasulullah saw.,sebagian bertanya kepada yang lain: “Apakah kamu biasa mencium anak-anakmu? Sebagian menjawab: “Ya.” dan yang lain ada yang menjawab: “Demi Allah, kami tidak pernah menciumnya.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana jika Allah mencabut rasa kasih sayang dari kalian?” (Muttafaq’Alaih)

Dari Jarir bin Abdullah ra.,ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang tidak mengasihi sesama manusia, maka Allah tidak akan mengasihinya.” (Muttafiq’ Alaih)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu menjadi Imam salat bagi orang banyak hendaknya ia memperingan (mempecepat)nya, karena di antara mereka, ada orang yang lemah, ada yang sakit dan pula yang lanjut usia. Bila ia salat sendirian, perpanjanglah sesuai kemampuannya.” (Muttafaq’ Alaih). Dalam riwayat lain dikatakan: “Karena di antaranya ada yang mempunyai keperluan lain.

Tinggalkan Balasan